, ,

Seniman Visual Memukau Dari Media Tak Biasa Di Galeri Raos Batu

oleh -1903 Dilihat

Dari Bara Menjadi Karya: Menyusuri Jejak Arang dalam Pameran Seni Kontemporer di Kota Batu

Batu- Siapa sangka, arang yang identik dengan bara api dan jelaga hitam pekat, justru disulap oleh para seniman Kota Batu menjadi mahakarya visual yang memukau. Inilah esensi dari pameran bertajuk ‘Jejak Arang’ yang digelar di Galeri Raos, Kota Batu, pada 20-30 September 2025 mendatang. Pameran ini tidak hanya sekadar memajang lukisan, tetapi merupakan sebuah pernyataan tentang kreativitas tanpa batas dan seni yang lahir dari kesederhanaan.

Seniman Visual Memukau Dari Media Tak Biasa Di Galeri Raos Batu
Seniman Visual Memukau Dari Media Tak Biasa Di Galeri Raos Batu

Baca Juga : Sentuhan Digital Mahasiswa Malang Untuk Desa Sumberbrantas Di Kota Batu

Sebanyak 18 seniman lokal terlibat dalam proyek kolaboratif unik ini, membuktikan bahwa seni tinggi bisa tercipta dari bahan yang paling dekat dan sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Proses kreatif yang berlangsung sekitar satu minggu itu menitikberatkan pada eksplorasi karakter arang sebagai medium utama, menghasilkan beragam karya yang penuh tekstur, emosi, dan makna.

Murah Meriah, Bukan Berarti Sekadaran

Salah satu seniman, Gus Bandi, menuturkan bahwa ide menggunakan arang berawal dari keinginan untuk keluar dari zona nyaman dan konvensi media seni yang sudah ada. “Esensinya, kami ingin membuktikan bahwa untuk menciptakan karya berkualitas, kita tidak selalu bergantung pada bahan-bahan mahal.

Komitmen terhadap konsep ini bahkan dibawa hingga ke akarnya. Alih-alih membeli arang kemasan, para seniman dengan sengaja membuat sendiri bahan baku mereka dari berbagai jenis kayu sisa. Setiap goresan dan sapuan arang di atas kanvas, dengan demikian, membawa ‘jiwa’ dan ‘jejak’ dari material organik yang diolah secara manual. “Ini adalah simbol bahwa seni itu ada di sekitar kita. Dengan bahan seadanya, bahkan sisa, kita bisa berekspresi secara total,” tegas Gus Bandi.

Harmoni dalam Kebebasan: Tantangan Kolaborasi

Pameran ‘Jejak Arang’ di Galeri Raos ini menjadi bukti nyata bahwa seni rupa kontemporer di Indonesia terus berkembang dengan semangat inovasi dan keberanian. Mereka mengajak kita untuk melihat lebih dekat, bahwa dari sesuatu yang sering dianggap remeh—sebongkah arang—dapat lahir keindahan, kritik sosial, dan cerita-cerita manusiawi yang menyentuh hati. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan transformasi ajaib dari bara menjadi karya ini.

Eksplorasi Tekstur dan Emosi: Menghidupkan Karya di Atas Kanvas

Melangkah lebih jauh ke dalam galeri, pengunjung langsung disambut oleh ragam tekstur yang unik dari setiap karya. Arang memberikan karakter visual yang kuat, mulai dari guratan-guratan tegas yang penuh energi hingga gradasi abu-abu yang lembut dan misterius.

Salah seorang pengunjung, Sari, mengaku terpukau dengan kedalaman yang dihadirkan. “Awalnya saya kira hanya gambar-gambar hitam putih biasa. Ternyata, semakin dilihat, semakin terasa emosi dan cerita di balik goresan arang tersebut. Sangat powerful,” ujarnya.

Proses Kreatif yang Mengalir Dinamis

Dalam proses penciptaannya, para seniman menjadikan ketidaksempurnaan arang sebagai sebuah keunggulan. Mereka membiarkan material tersebut berbicara apa adanya. Misalnya, serat kayu yang tersisa dalam arang justru menciptakan efek visual tak terduga yang memperkaya karya. Selanjutnya, para seniman ini seringkali bekerja secara intuitif, membiarkan tangan mereka menari mengikuti karakter bahan.

Menutup Rangkaian, Membuka Inspirasi

Pameran ‘Jejak Arang’ pada akhirnya berhasil membuktikan bahwa seni tidaklah terpaku pada medium mewah. Dengan kata lain, kreativitas dan keahlianlah yang menjadi jiwa dari sebuah mahakarya.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.