Baru Seumur Jagung, Cat Patung Apel Ikon Kota Batu Sudah “Botak-botak”, Netizen: Malu Kita!
Batu- Pemerintah Kota Batu kembali menjadi sorotan. Kali ini, bukan karena keindahan wisatanya, tetapi karena sebuah pekerjaan yang dinilai asal-asalan. Sebuah patung apel raksasa, yang baru saja diresmikan sebagai ikon baru di kawasan Jalan Sultan Agung, sudah menunjukkan tanda-tanda kerapuhan sebelum genap berusia satu bulan.

Baca Juga : Tantangan Finansial Di Balik Program Beasiswa Seribu Sarjana Pemkot Batu
Fenomena memalukan ini memperlihatkan kondisi cat patung yang sudah mengelupas di beberapa bagian, meninggalkan kesan lusuh dan tidak terawat. Padahal, patung ini merupakan buah tangan dari program revitalisasi taman median jalan yang digadang-gadang akan mempercantik wajah kota.
Dana CSR dan Ekspektasi yang Tertinggi
Yang membuatnya semakin disayangkan, patung apel besar yang terletak di depan gedung Koramil Kecamatan Batu ini dibangun melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR). Artinya, ada partisipasi dunia usaha dalam pembangunan kota. Namun, kualitas hasil yang tidak maksimal justru memunculkan pertanyaan besar: Apakah proses tender dan pengawasannya dilakukan dengan sungguh-sungguh?
Revitalisasi taman yang seharusnya menjadi kebanggaan warga, kini justru berbalik menjadi sumber kritik pedas. Banyak yang mempertanyakan akuntabilitas dan mutu pekerjaan proyek yang menghabiskan uang tidak sedikit ini.
Viral di Media Sosial, Netizen Menyuarakan Kekecewaan
Potret miris patung apel “belia” yang sudah uzur ini diunggah oleh akun Instagram @skyscrapercity_kotabatu. Dalam unggahannya, terlihat jelas bagian-bagian cat yang terkelupas, membuat patung yang seharusnya menjadi ikon segar itu terlihat seperti sudah berumur puluhan tahun.
“Belum 1 bulan tapi warna catnya sudah terkelupas, gmn menurut kalian???” tulis akun tersebut dalam keterangan fotonya.
Unggahan itu pun langsung menjadi buah bibir dan menuai beragam respons dari warganet, khususnya masyarakat Kota Batu. Rasa malu dan kecewa mendominasi kolom komentar.
“Saya sebagai warga Batu malu melihatnya. Ini kan baru, masak sudah seperti itu?” tulis seorang pengguna.
“CSR-nya siapa nih? Kok kayaknya bahan dan tukangnya abal-abal,” komentar yang lain dengan nada sinis.
Yang lain lagi berkomentar, “Daripada bikin yang tidak berkualitas, mending dana CSR-nya dialihkan untuk perbaikan fasilitas umum yang lain yang lebih urgent.”
Pertanyaan Besar yang Menghantui Publik
Insiden ini memunculkan sejumlah pertanyaan krusial yang hingga kini belum terjawab:
-
Kualitas Material: Apakah cat yang digunakan memenuhi standar ketahanan untuk benda outdoor? Ataukah ada pemotongan anggaran yang mengorbankan kualitas?
-
Proses Pengerjaan: Apakah proses pengecatan dilakukan dengan prosedur yang benar, seperti penggunaan primer dan cat yang sesuai dengan media patung?
-
Pengawasan Proyek: Seberapa ketat pengawasan dari dinas terkait selama proyek pembuatan patung ini berlangsung?
Masyarakat berharap Pemerintah Kota Batu segera menindaklanjuti laporan ini. Bukan hanya dengan mengecat ulang, tetapi juga dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh proses revitalisasi dan proyek-proyek sejenis di masa depan. Ikon kota seharusnya menjadi kebanggaan, bukan sumber aib yang mengundang cibiran.





