Kota Batu Dilanda “Musim Kemarau Basah”: Cuaca Panas Ekstrem Diselingi Hujan Mendadak, Warga Bingung Antisipasi
Kota Batu- yang dikenal dengan hawa sejuk dan panorama pegunungannya, belakangan ini justru dihadapkan pada fenomena cuaca tak menentu yang membuat warganya waswas. Meski secara kalender klimatologi telah memasuki musim kemarau, hujan masih kerap turun secara sporadis, diselingi cuaca terik yang menyengat. Kondisi ini memunculkan istilah “kemarau basah”—fenomena unik yang memadukan kekeringan dengan kelembapan tinggi.

Baca Juga : Hanya 60 Meter! Inilah Jalan Terpendek di Kota Batu
Cuaca Ekstrem Siang Terik, Sore Hujan Lebat
Warga Kota Batu mengaku kesulitan beradaptasi dengan perubahan cuaca yang drastis. Rizal, seorang pedagang di Kecamatan Batu, bercerita bagaimana ia kerap keliru memprediksi kondisi langit. “Pagi cerah, saya tidak bawa payung atau jas hujan. Eh, pulang kerja tiba-tiba diguyur hujan deras. Besoknya malah sebaliknya—saya siapkan jas hujan, ternyata panas terik seharian,” keluhnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu wilayah. Perbedaan cuaca bahkan bisa dirasakan antar-kecamatan. Misalnya, saat Kecamatan Batu dilanda panas menyengat, Kecamatan Bumiaji yang lebih tinggi justru diselimuti mendung tebal atau bahkan hujan ringan. “Seperti punya dua musim sekaligus,” ujar Siti, warga Bumiaji.
Apa Itu “Kemarau Basah”?
Plt. Kepala BPBD Kota Batu, Suwoko, menjelaskan bahwa kondisi ini disebut kemarau basah—fenomena ketika curah hujan masih terjadi meski seharusnya masuk musim kemarau. “Suhu udara lembab akibat pengaruh angin basah dari Samudra Hindia, sehingga meski kemarau, hujan masih mungkin turun,” paparnya.
Menurut data BMKG, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus ini, namun anomali cuaca membuat pola iklim sulit diprediksi. “Masyarakat perlu waspada terhadap potensi hujan sporadis yang bisa memicu genangan atau longsor di area lereng,” imbuh Suwoko.
Dampak pada Aktivitas Warga
Cuaca tak menentu ini turut memengaruhi kehidupan sehari-hari:
-
Sektor Pertanian: Petani sayur di Batu kesulitan menentukan jadwal tanam karena kelembapan tinggi berisiko memicu jamur.
-
Pariwisata: Pengunjung yang berharap menikmati udara sejuk justru sering terkecoh dengan panas terik siang hari.
-
Kesehatan: Perubahan suhu ekstrem memicu risiko ISPA dan flu, terutama pada anak-anak dan lansia.
Antisipasi yang Bisa Dilakukan
BMKG mengimbau masyarakat untuk:
-
Selalu memantau prakiraan cuaca harian.
-
Membawa payung atau jas hujan saat beraktivitas, meski pagi hari terlihat cerah.
-
Menjaga daya tahan tubuh dengan asupan cairan cukup, mengingat fluktuasi suhu yang ekstrem.





