Pasar Hewan Sisir Batu: Dari Riuh Rendah ke Senyap Sunyi, Tergusur Gelombang Digital dan Wabah
Batu- Suasana riuh rendah tawar-menawar, deru napas hewan ternak, dan kerumunan pembeli yang menyemuti Pasar Hewan di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, kini telah berubah menjadi kesunyian yang hampir menyayat. Lapangan yang dulu menjadi denyut nadi perdagangan ternak wilayah itu kini sepi, hanya diselingi oleh beberapa pedagang setia yang bertahan, kebanyakan penjual kambing, yang sesekali melirik langkah para pejalan.

Baca Juga : Pemkot Batu Konfirmasi Rehabilitasi Total Stadion Gelora Brantas Pada 2026
Transformasi drastis ini bukan terjadi tanpa sebab. Gelombang besar revolusi digital dan bayang-bayang wabah penyakit telah mengubah peta perdagangan hewan ternak secara fundamental. Masyarakat dan pedagang kini beralih ke ruang-ruang maya, meninggalkan pasar tradisional yang menjadi saksi bisu pergeseran zaman.
Dari Lapangan ke Layar: Perubahan Perilaku yang Tak Terelakkan
Nurbianto Puji, atau yang akrab disapa Kentor, Kepala Bidang Perdagangan Diskumperindag Kota Batu, membenarkan fenomena ini. “Aktivitas jual beli di Pasar Hewan Sisir memang mengalami penurunan signifikan. Ini adalah cerminan langsung dari perubahan preferensi dan perilaku masyarakat,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Menurut Kentor, komunitas-komunitas peternak dan pedagang online kini menjadi ‘pasar baru’. Media sosial dan platform khusus dipenuhi dengan postingan foto dan video hewan ternak yang ditawarkan. Transaksi yang dulu harus dilakukan dengan tatap muka dan pemeriksaan langsung, kini seringkali hanya melalui sebuah pesan singkat atau panggilan video. “Kemudahan akses, jangkauan yang lebih luas, dan efisiensi waktu menjadi daya tarik utama. Kenapa harus repot ke pasar jika segalanya bisa diatur dari rumah?” tambahnya.
Pukulan Telak: Wabah PMK dan Trauma yang Berkepanjangan
Namun, transformasi digital bukan satu-satunya biang keladi. Pukulan telak datang dari merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa waktu lalu. Virus yang sangat mudah menular ini membuat baik pedagang maupun pembeli enggan melakukan kontak langsung. Pasar hewan, yang secara alami menjadi titik kerumunan, dianggap sebagai episentrum potensial penyebaran.
“Kami tidak pernah menutup pasar secara total, tetapi kami terpaksa memberlakukan pembatasan ketat. Langkah ini penting untuk memutus mata rantai dan meminimalisir potensi penyebaran virus,” jelas Kentor, mengenang masa-masa sulit tersebut.
Sayangnya, pasca wabah PMK, kondisi pasar tidak kunjung pulih seratus persen. Sri Nurcahyani Rahayu, Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan Distan-KP Kota Batu, mengungkapkan bahwa kewaspadaan pedagang masih sangat tinggi. “Pada awal tahun ini, ada indikasi peningkatan kasus PMK lagi. Secara tidak resmi, semangat untuk sementara waktu menghindari transaksi langsung di pasar masih sangat kuat, terutama untuk hewan yang didatangkan dari luar daerah,” terang Sri.
Dilema Pemulihan: Stok, Daya Beli, dan Masa Depan yang Tak Pasti
Upaya pemulihan pun terbentur pada dinding masalah yang lebih besar. Kentor mengakui bahwa pihaknya terus mendorong peningkatan stok hewan. Namun, kondisi ekonomi nasional yang sedang lesu menjadi tantangan berat. Daya beli masyarakat anjlok, dan prioritas pengeluaran bergeser.
“Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, masyarakat akan lebih memilih memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Membeli sapi atau kambing untuk investasi atau keperluan adat menjadi opsi yang ditunda,” imbuh Kentor, menggambarkan realitas yang dihadapi para pedagang.
Proses formal untuk mengaktifkan kembali pasar pun tampaknya belum menjadi prioritas. Sri Nurcahyani menegaskan bahwa saat ini, aspek keamanan dan kesehatan lebih diutamakan. “Izin pengaktifan kembali pasar secara administratif belum sepenuhnya berjalan. Yang terpenting bagi kami saat ini adalah setiap hewan yang berpindah memiliki surat jalan resmi dan kondisi sanitasi di lokasi terjaga dengan aman,” pungkasnya.
Lanskap yang Berubah Permanen?
Kesunyian Pasar Hewan Sisir kini berdiri bagai monumen dari sebuah era yang perlahan pudar. Ditinggalkan oleh arus digitalisasi, didera oleh trauma wabah, dan diterpa oleh angin kelesuan ekonomi. Para pedagang yang tersisa adalah simbol ketahanan, sementara kesunyian yang menyelimuti lapangan itu adalah pertanyaan besar tentang masa depan pasar tradisional di tengah gempuran zaman baru. Apakah ia akan menemukan bentuk barunya, atau hanya akan menjadi kenangan dalam catatan sejarah Kota Batu? Hanya waktu yang dapat menjawabnya.





