Aktivasi Layanan Polindes, Pemkot Batu Teken Kontrak dengan Tenaga Kesehatan: Upaya Tingkatkan Layanan Kesehatan hingga Pelosok Desa
Kota Batu – Pemerintah Kota Batu kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah perdesaan. Dalam upaya mengaktifkan kembali Pos Persalinan Desa (Polindes) secara optimal, Pemkot Batu resmi menandatangani kontrak kerja dengan sejumlah tenaga kesehatan (nakes).
Langkah ini menjadi bagian dari program prioritas daerah untuk memperluas jangkauan layanan dasar kesehatan, terutama bagi ibu hamil, bayi, dan balita yang membutuhkan akses cepat terhadap fasilitas medis, tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota.
Kontrak dengan Nakes: Siap Bertugas di Garis Terdepan
Penandatanganan kontrak dilakukan secara simbolis oleh perwakilan tenaga kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kota Batu. Para nakes yang dikontrak terdiri dari bidan, perawat, serta tenaga pendukung lainnya yang akan ditugaskan di sejumlah Polindes yang selama ini kurang optimal karena keterbatasan SDM.
“Kami mengapresiasi dedikasi para tenaga kesehatan yang siap ditempatkan di desa-desa. Polindes adalah ujung tombak layanan kesehatan masyarakat desa, dan kehadiran nakes ini akan meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi warga,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu dalam sambutannya.
Fokus pada Ibu dan Anak, Tapi Bukan Sekadar Persalinan
Meski dikenal sebagai fasilitas persalinan, Polindes tidak hanya melayani ibu hamil dan bayi. Dengan aktivasi ini, Polindes juga akan difungsikan sebagai pusat pelayanan kesehatan dasar, seperti imunisasi, pemeriksaan kehamilan, penanganan gizi buruk, hingga edukasi pola hidup bersih dan sehat.
Wali Kota Batu menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem kesehatan yang merata dan inklusif, yang tidak hanya berpusat di fasilitas besar seperti rumah sakit atau puskesmas utama.

“Kalau desa sehat, kota ikut sehat. Kita harus pastikan masyarakat desa mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, murah, dan berkualitas,” katanya.
Harapan Besar dari Warga dan Pemerintah Desa
Kepala desa dan tokoh masyarakat di sejumlah wilayah menyambut baik langkah aktivasi Polindes ini. Mereka menilai kehadiran nakes di tingkat desa akan mempercepat penanganan kasus darurat, mengurangi risiko kematian ibu dan bayi, serta mendekatkan layanan promotif dan preventif kepada masyarakat.
“Selama ini banyak warga yang kesulitan karena harus ke kota hanya untuk periksa kehamilan atau imunisasi. Sekarang dengan Polindes aktif kembali, tentu kami sangat bersyukur,” kata salah satu kepala desa di Kecamatan Bumiaji.
Langkah Lanjutan: Monitoring, Evaluasi, dan Pembinaan
Pemkot Batu memastikan bahwa program ini tidak berhenti di tahap kontrak saja. Akan dilakukan monitoring rutin dan evaluasi kinerja, termasuk pelatihan berkelanjutan bagi para tenaga kesehatan agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai standar.
“Kami tidak ingin Polindes hanya sekadar buka. Kita ingin isinya hidup, pelayanannya nyata, dan manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Batu.
Penutup: Polindes Bukan Fasilitas Sekunder, Tapi Prioritas
Dengan aktivasi kembali Polindes melalui kontrak resmi dengan tenaga kesehatan, Pemkot Batu menunjukkan bahwa layanan kesehatan di desa tidak boleh dianggap nomor dua. Justru di sinilah letak pentingnya membangun fondasi kesehatan masyarakat secara menyeluruh — mulai dari desa hingga kota.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam membangun sistem kesehatan yang inklusif, terjangkau, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.





